Minggu, 12 Desember 2010

Dengan sikapnya yang bisu, dia memamah otakku!


oh..
dia datang lagi menyapaku
aku kira dia sudah melupakanku
melupakan tengkorak kepalaku
lupa, betapa dia pernah begitu menikmatinya
memamah otak sebelah kiriku
mencincang habis otak kananku
merampas tetesan embun mataku yang sudah lusuh
mencabut satu persatu gigiku
gigi yang sudah bolong dan agak sedikit bau

kadang, aku dibuatnya bingung sendiri dengan tanyaku
kenapa dia memilih otak kerdilku
kenapa dia tidak tertarik dengan otak artis-artis itu
oh..
dia tetap saja terus menikmati santapannya
tanpa memperhatikan kebingungan dan ratapanku
seperti biasanya
seperti kedatangannya yang sudah-sudah
dengan sikapnya yang kaku.. bisu
tangannya tetap tenang pegang catut dan pisau dapurnya
aah..
migran ini memang sobatku yang paling setia

hey.. masuklah kedalam kamarku
jangan berdiri saja di depan pintu
di luar udaranya sangat dingin sekali
malam ini, kelihatannya langit tidak sedap untuk dinikmati
tadi sore rambut-rambutnya hujan lebat sekali
derasnya masih menempel di tempat tidurku
serpihan-serpihan petirnya masih berserakan di lantai
kelihatannya,
rembulan sedang kehabisan minyak tanah untuk lenteranya
gilangnya bintang pun tak nampak di pelataran rumahku mulai tadi sore
mungkin mereka sedang malas main petak umpet

kamu mau menagih janjiku ya?
tenang, sudah aku siapkan semuanya
tapi, kamu maukan menunggu barang sejenak
aku mau menikmati dulu secangkir kopiku sisa tadi sore
dan menghisap rokok yang tinggal sebatang ini
dengan sikapnya yang kaku.. bisu
dia tidak memperdulikan segala omonganku
dia langsung mencincang otakku
merogoh paru-paruku
mencabut jantungku

entah kenapa, ganti dia yang kelihatan bingung
mencari-cari sesuatu
kamu mencari hatiku ya?
maaf..
oktober kemarin, hati itu sudah aku titipkan pada seseorang
nggak papakan,
kamu sisakan hatiku untuk seseorang yang aku sayangi?

dengan sikapnya yang kaku.. bisu
dia tetap tidak memperdulikanku
dan aku hanya bisa merintih saja

Kamis, 09 Desember 2010

Robohnya surau hati


gerhana matahari, gerhana hidup
matahari hitam
langit hitam
samudera hitam
jiwa-jiwa hitam
tak ada sulur matahari
tak ada suluh kehidupan
tak ada apa-apa
hanya ada kesedihan tanpa pilu
pilu kehampaan

mmmmh.. huuu..
di nanar saujana, sang kantung rahim menari
menari laiknya sang darwis
dibalut gendang seruling ney
merentang tangan berputar-putar kekosongan
kosong diantara tepuk tangan hinaan
takut.. diantara kejaran belati, parang
melayang bagai mayat, bangun dari tangisan
tangisan yang tidak pernah menitikkan airmata

gerhana hidup, gerhana matahari
bumi meratap diatas lelangit menangis
gilangnya bintang pun terkendat
segala jadah memenuhi langit
datang dari jiwa-jiwa yang hitam
dari ratapan yang kering, gersang
dari kegelapan dalam kegelapan
dari kebingungan dalam kebingungan
kebingungan yang mengangkangi sauh hati
membunuh suluh jiwa

oh..
kepada siapa yang mau menerima jiwa yang hitam ini
pada siapa yang tak enggan seduhkan sinaran di cangkir ruh ku
yang tak enggan menyambangi nanar kepiluan ini
yang mau merawatku dalam ayat-ayat mati.. hidup

mmmmh... huuu..
airmata terendap
airmata yang tertahan
menangis pada siapa
menangis pada apa
menangis pada tangis yang tak termuntahkan
lukisan tangisan hanyalah menandakan..

Jumat, 03 Desember 2010

Antara telanjangku, cemeti malaikat, dan berandanya Tuhan..


mataku tercengang saat aku melihat selembar kertas putih
memaksa kuhapus berkali-kali tulisan ini
otakku mulai sombong ketika tergambar keinginanku
keinginan tuk membuat tulisan-tulisan yang bermimpi
tentang pujian-pujian itu
tentang aku mencoba yang terbaik
tentang menemukan inspirasi
tentang kepenatan yang dibungkus omong kosong
tentang hidup.. mereka punya hidup masing-masing!
tentang ketidakbisaanku
tentang secangkir kopi
tentang bibir seksi
tentang Tuhan yang maha adil.. dimana aku kerdil
tentang tangis yang tidak pernah menitikan air mata
tentang senyum yang bukan milikku
tentang kenikmatan di saat aku mencumbumu
tentang pekerjaan

Aah..
mending aku ke kamar mandi
cuci muka, terus kugosok hitamnya tubuh lapukku
tuh kan.. aku mulai sombong lagi!

Dia atas kebijakanku
nilailah aku dari sudut yang terhitam
kugunakan pena untuk berimajinasi bohong
kugunakan bibir untuk mengumpat keindahan
kugunakan akal untuk mendominasi kewajaran
kugunakan penampilanku.. tuk menjual harga diri yang selalu telanjang

Aargh..
mending gelandangan!
yang mengais-ngais tong sampah
mending kecoak bau!
yang selalu berusaha mencari makan
walau mereka sering dianggap kotor
mending jadi lampu 5 watt!
yang menerangi sebuah kamar lembab tak berpenghuni
mending menjadi ibu!
bagi anak-anak durhakanya
mending kamu tampar aku!
setelah itu ajari aku hidup di awal hari
dan merenungkan di malam hari
dan esok aku tidak ragu lagi untuk hidup
dan terus mati

keringat dingin menyembur dari pori-pori kulitku
perutku yang mulus mulai keriput
wajahku yang pas-pasan
mungkin terlalu "pas" sebagai manusia yang lupa akan masih kecil
aku bayi prematur..
kelak saat aku besar menjadi kelihatan dungu
tapi banyak yang suka kedunguanku

Tuhan..
maaf ya untuk sedikit celoteh ini!
mungkin deretan kata di atas tak pernah membuatku besar
kecil tanpa apa-apa..

Kamis, 02 Desember 2010

Merampas lilin kecilku dari tangan Tuhan!


kasih..
aku takut kehilangan dirimu!
tapi aku lebih takut ketika kau bersanding denganku,
takut.. tidak mampu bingkaikan secuil kebahagiaan untukmu.
aku hanya punya tangan yang kasar ini,
yang hanya bisa membelai lembut rambutmu,
ketika kau terbuai di lelapmu.
aku hanya sebuah patung yang bugil,
karena tidak ada yang bisa aku banggakan di depanmu.
aku hanya punya sepenggal hati yang rapuh ini,
rapuh.. ketika mendapatimu terbaring kesakitan.
aku hanya bisa menjatuhkan airmata ini,
airmata yang ingin merampas takdirmu dari tangan Tuhan.
karena surat-surat cintaku,
tidak pernah Dia sampaikan kepadamu.

kasih..
aku bukan siapa-siapa..
karena aku tanpa apa-apa!
Lukisan tangisan hanyalah menandakan..

Rabu, 01 Desember 2010

tetaplah kamu seperti burung-burung kertas!


burung-burung kertas..
bergerak halus
berputar-putar
sayap-sayapnya yang bergetar tertiup angin
kepalanya tertuju kaku ke depan.. matanya
mulai lagi bergerak diantara benang-benang yang mengaitnya
berayun terarah
kadang bertabrakan
terima kasih benang..
dan angin selalu berteman dengan sayap-sayap kertasnya

burung-burung kertas..
tak pernah diam
terus bergerak semakin halus
seiring waktu mengiringi damainya malam.. lembutnya pagi
tak pernah tertidur
bayang-bayang sayapnya bergerak terus.. terus hidup
dan semakin kentara lipatan-lipatan itu
sepasang mata terus memandanginya
meraih tuk menyentuhnya.. tersentuh kertasnya
senyum kecil timbul dari sepasang bibir itu sambil mengucap,
"tetaplah kamu seperti burung-burung kertas!"

burung-burung kertas..
terus berputar-putar, sesekali berhenti
serta seribu kepak keyakinan
hingga burung-burung nuri berkicau
terlihat dari kaca jendela
telinga ini mengiang
bersahutan
dan akan pasti berkicau dengan lembut.. merdu

ohh..
tak henti-hentinya
biarlah burung-burung kertas
dan beribu-ribu kepak sayap kertas putih..

Rabu, 24 November 2010

Membunuh sinaran bintang



menatap langit malam terbias mendung
cahaya kota mengangkat makna
akankah gerimis meletupkan aroma tanah?
jemari kaki menghentak lembut di dinginnya malam
kuingat dimana embun rasa mulai membasahi keheninganku
ku berbisik kepada tiap-tiap hembusan angin malam
oh.. kubersandar pada impian ini!
ku terlingkupi..

disaat cerah terus membawaku bergelut dan tersentak-sentak
halus..
halus..ku memujamu!
memuja bayangmu..
memuja setiap jejak langkahmu disaat melewati jalananku
jasadmu mengudara melewati kepenatan-kepenatan ini
kuseduh tiap senyummu..
pada tetes nafas ini
dimanakah guru yang memberiku senyuman tulus?

ku terus-menerus..
memahat kilau parasmu memenuhi langit.. alam
menuntun mendung tuk merintikkan gerimis memenuhi suka cita-cinta
yang menari di atas tanah
kukecup..
kubiarkan terlena
menatapku dengan mata indahmu
berbicara dengan senyummu!

Mengintip peti mati ibuku


sebatang rokok,
dan secangkir kopi sisa semalam.
kuhisap perlahan-lahan,
kuteguk di pagi buta.

di bangku bangsal rumah sakit ini,
diantara lelah yang melekat di keringatku.
penaku masih mencoba goreskan kata di kertas pembungkus nasi,
sekedar menulis surat untuk Tuhan,
sekedar mau menyapa dan berbagi sisa kopi semalam.

dalam cangkir kopi,
kulihat matahari pucat,
sepucat wajah ibuku yang sedang terbaring menikmati infusnya.
sementara hati pucat,
notasi jantung pucat,
luka pucat,
mata pucat,
langkah pucat,
tawa-tawa itu pucat.

diam dalam kebisingan,
menerawang membungkus diri,
menatap hari bersiluet pucat.
tunggu dulu, jam berapa sekarang?
mencoba mengintip di sela jendela kamar bangsal itu,
hanya ingin tahu,
kalau-kalau ibuku terjaga,
dan minta tolong untuk menemani ke kamar mandi.

entah..
sudah berapa kali mengintip melalui sela jendela itu,
seperti melihat ibuku melalui jendela Tuhan.
syukurlah,
Dia masih belum membawa peti mati untuk ibuku,
mungkin lain hari Dia akan datang,
dan aku masih menunggu untuk itu.